Kamis, 20 Januari 2011

Hubungan akhidah dan akhlak


Bab I
PENDAHULUAN
A. latar belakang masalah
Akhidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenaran terhadap sesuatu, akhidah secara syara` yaitu beriman kepada Allah, para Malaikat,  kitap-kitapNya, para RasulNya, dan kepada hari akhir serta Qadar baik maupun yang buruk.
Akidah mencerminkan sebuah unsur kekuatan yang mampu menciptakan mu’jizat dan merealisasikan kemenangan-kemenangan besar di zaman permulaan Islam. Demi membina setiap individu muslim, perlu kiranya kita mengingatkannya tentang sumbangsih-sumbangsih akidah yang telah dimiliki oleh orang-orang sebelumnya dan meyakinkannya akan validitas akidah itu dalam setiap zaman dan keselarasannya dengan segala era.
Peranan penting akidah dalam membina manusia di berbagai sisi dan dimensi kehidupan yaitu :
1. Dalam Sisi Pemikiran.
2. Dalam Sisi Sosial.
3. Dalam Sisi Kejiwaan.
4. Dalam Sisi Akhlak.
Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah).
Menurut Imam Al Ghazali, Al-Khulq ialah suasana kejiwaan yang mantap yang menerbitkan perbuatan, perbuatan itu terbit begitu sahaja tanpa berfikir dan merenung panjang. Sekiranya suasana kejiwaan yang menjadi sumber perbuatan itu memerlukan tindak-tanduk yang baik. Tetapi kalau muncul yang sebaliknya, maka suasana kejiwaan itu dinamakan sebagai akhlak yang buruk.
Ibnu Qaiyyim al Jauziah dalam bukunya Mengetuk Pintu Ampunan (2007) menyebutkan, ketika tubuh di isi dengan komsumsi yang halal, jiwa di isi dengan zikir, waktu nya selalu di sertai doa, dan hati selalu dijaga dari tipu daya hawa nafsu, saat itulah manusia telah menggemgam kunci untuk merengkuh berjuta anugrah Allah.
Kalimat diatas menunjukkan manusia  yang mampu menjaga akhlaknya akan selalu mendapatkan ridha dari Allah SWT.
Menurut asy-Syaibani; "Matlamat pokok ilmu akhlak ialah membangun 'conscience' atau hati nurani manusia yang berakhlak, menghaluskan jiwa, membersihkan hati, menyepuh budi, menguatkan hubungan manusia dengan Allah, mengelokkan perangai, menilai perilaku, mengukuhkan semangat ukhuwah, kasih sayang, gotong royong, menegakkan yang benar dan yang baik."
Baik akhidah maupun akhlak memiliki sentral gerak yang sama, yaitu Al Qalbu (hati).. dalam hatilah dorongan untuk melakukan atau mengucapkan sesuatu yang baik maupun yang buruk. Seperti sabda Rasulullah : Artinya: “sesungguhnya dalam jasat( diri setiap orang) itu ada sekarat daging,  Jika daging itu bersih, maka yang tampak dalam jasat itu pun sesuatu yang bersih, dan jika daging itu kotor,maka yang tampak dalam jasat pun kotor dan busuk.” (HR Ahmad).
Akidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinannya terhadap Allah juga lurus dan benar. Karena barang siapa mengetahui Sang Penciptanya dengan benar, niscaya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah Allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh atau bahkan meninggalkan perilaku-perilakuyangtelahditetapkan-Nya.



B. Rumusan masalah
                  Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apa penngertian akhidah dan akhlak
2.      Bagaimana pendapat ulama tentang akhlak
3.      Bagaimana peran akhidah terhadap akhlak
4.      Bagaimana hubungan akhidah  dengan akhlak
C. Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui pengertian akhidah dan akhlak
2.      Untuk mengetahui pendapat ulama tentang akhlak
3.      Untuk mengetahui peran akhidah terhadap aklhak
4.      Untuk mengetahui hubunagan akhidah  dengan akhlak

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian akhidah
            Dalam bahasa Arab aqidah berasal dari kata al- ‘aqdu,  yang berarti ikatan. Sedangkan Menurut istilah akidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. Atau perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
Ø  Peran akhidah
Kita bisa menyimpulkan peranan penting akidah dalam membina manusia di berbagai sisi dan dimensi kehidupan dalam poin-poin berikut :
1. Dalam Sisi Pemikiran.
Akidah menganggap manusia sebagai makhluk yang terhormat. Adapun kesalahan yang terkadang menimpa manusia, adalah  satu hal yang biasa dan bisa diantisipasi dengan taubat. Atas dasar ini, akidah meyakinkannya bahwa ia mampu untuk meningkatkan diri dan tidak membuatnya putus asa dari rahmat Allah dan ampunan-Nya
Akidah telah berhasil memerdekakan manusia dari penindasan politik para penguasa zalim dan membebaskannya dari tradisi menuhankan manusia lain. Akidah juga memberikan kebebasan penuh kepadanya. Namun ia membatasi kebebasan itu dengan hukum-hukum syariat, penghambaan kepada Allah supaya hal itu tidak menimbulkan kekacauan. Begitu juga, akidah telah berhasil membebaskannya dari jeratan hawa nafsu, menyembah fenomena-fenomena alam di sekitarnya dan dongengan-dongengan yang tidak benar.
Melalui proses pembebasn pemikiran ini, akidah melakukan proses pembinaan manusia. Ia memberikan kedudukan yang layak kepada akal, mengakui peranannya dan membuka cakrawala pemikiran yang luas baginya. Di samping itu, akidah juga membuka jendela keghaiban baginya, membebaskannya dari jeratan ruang lingkup indra yang sempit dan mengarahkan daya ciptanya yang luar biasa untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah di segenap cakrawala raya dan diri mereka, serta menjadikan renungan (tafakkur) ini sebagai ibadah yang paling utama.
Tidak sampai di situ saja, akidah juga mengarahkan daya akal untuk menyingkap rahasia-rahasia sejarah yang pernah terjadi pada umat dan bangsa-bangsa terdahulu, dan merenungkan hikmah yang tersembunyi di balik syariat guna mengokohkan keyakinan muslim terhadap syariat dan validitasnya untuk setiap masa dan tempat.
Dari sisi lain, akidah mendorong manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan dan mengikat ilmu pengetahuan itu dengan iman. Karena memisahkan ilmu pengetahuan dari iman akan menimbulkan akibat jelek.
Akidah juga memerintahkan akal untuk meneliti dan merenungkan dengan teliti untuk menyimpulkan sebuah Ushuluddin dan melarangnya untuk bertaklid dalam hal itu.
2. Dalam Sisi Sosial.
Akidah telah berhasil melakukan perombakan besar dalam sisi ini. Di saat masyarakat Jahiliah hanya mementingkan diri mereka dan kemaslahatannya, dengan mengenal akidah, mereka relah mengorbankan segala yang mereka miliki demi agama dan kepentingan sosial.
Akidah telah berhasil menghancurkan tembok pemisah yang memisahkan antara ketamakan manusia akan kemaslahatan-kemaslahatan pribadinya dan jiwa berkorban demi kemaslahatan umum dengan cara menumbuhkan rasa peduli sosial dalam diri setiap individu.
Akidah telah berhasil menumbuhkan rasa peduli sosial ini dalam diri setiap individu dengan cara-cara berikut: menumbuhkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap kepentingan orang lain, menanamkan jiwa berkorban dan mengutamakan orang lain dan mendorong setiap individu muslim untuk hidup bersama.
Dari sisi lain, akidah telah berhasil merubah tolok ukur hubungan sosial antar anggota masyarakat, dari tolok ukur hubungan sosial yang berlandaskan fanatisme, suku, warna kulit, harta dan jenis kelamin menjadi hubungan yang berlandaskan asas-asas spiritual. Yaitu takwa, fadhilah dan persaudaraan antar manusia.
Akidah telah berhasil merubah kondisi pertentangan dan pergolakan yang pernah melanda masyarakat insani menjadi kondisi salang mengenal dan tolong menolong. Dengan ini, mereka menjadi sebuah umat bersatu yang disegani oleh bangsa lain.
Di samping itu, akidah Islam juga telah berhasil merubah tradisi-tradisi Jahiliah yang menodai kehormatan manusia dan menimbulkan kesulitan.
3. Dalam Sisi Kejiwaan.
Akidah dapat mewujudkan ketenangan dan ketentraman bagi manusia meskipun bencana sedang menimpa. Dalam hal ini akidah telah menggunakan berbagai cara dan metode untuk meringankan bencana-bencana itu di mata manusia. Di antara cara-cara tersebut adalah menjelaskan kriteria dunia;bahwa dunia ini adalah tempat derita dan ujian yang penuh dengan bencana dan derita yang acap kali menimpa manusia. Oleh karena itu, tidak mungkin bagi manusia untuk mencari kesenangan dan ketentraman di dunia ini.
Atas dasar ini, hendaknya ia berusaha sekuat tenaga demi meraih kesuksesan dalam ujian Allah di dunia.
Dan di antara cara-cara tersebut adalah akidah menegaskan bahwa setiap musibah pasti membuahkan pahala, dan menyadarkan manusia bahwa musibah terbesar yang adalah musibah yang menimpa agama.
Dari sisi lain, akidah juga membebaskan jiwa manusia dari segala ketakutan yang dapat melumpuhkan aktifitas, membinasakan kemampuan dan menjadikannya cemas dan bingung.
Begitu juga akidah memotivasi manusia untuk mengenal dirinya. Karena tanpa itu, sulit baginya untuk dapat menguasai jiwa dan mengekangnya, dan tidak mungkin baginya dapat mengenal Allah secara sempurna.
Dari pembahasan-pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penyakit-penyakit jiwa yang berbahaya seperti fanatisme, rakus dan egoisme jika tidak diobati, akan menimbulkan akibat-akibat sosial dan politik yang berbahaya, seperti fitnah  yang pernah menimpa muslimin di Saqifah, sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Ali a.s.
4. Dalam Sisi Akhlak
Akidah memiliki peranan yang besar dalam membina akhlak setiap individu muslim sesuai dengan prinsip-prinsip agama yang pahala dan siksa disesuaikan dengannya, dan bukan hanya sekedar ungkapan yang tidak menuntut tanggung-jawab. Lain halnya dengan aliran-aliran pemikiran hasil rekayasa manusia biasa yang memusnahkan perasaan diawasi oleh Allah dalam setiap gerak dan rasa tanggung jawab di hadapan-Nya. Dengan demikian, musnahlah tuntunan-tuntunan akhlak dari kehidupan manusia. Karena akhlak tanpa iman tidak akan pernah terterapkankan dalam kehidupan sehari-hari.
Demi mendorong masyarakat berakhlak terpuji dan meninggalkan akhlak yang tidak mulia, akidah mengikuti bermacam-macam metode dalam hal ini:
pertama, menjelaskan efek-efek uhkrawi dan duniawi dari akhlak yang terpuji dan tidak terpuji.
Kedua, memperlihatkan suri teladan yang baik kepada mereka dengan tujuan agar mereka terpengaruh oleh akhlaknya yang mulia dan mengikuti langkahnya.
B.     Pengertian Akhlak
Dari segi bahasa, "Akhlaq ialah kata jama' dari "Al Khulq". Dalam lisan bermakna tabiat atau watak .
Pada hakikatnya akhlak adalah penyifatan tentang gambaran batin seseorang. Gambaran jiwa, ciri-cirinya dan kandungannya yang tersendiri. Ini mencerminkan lahiriah , sifat seseorang dan segala kandungan sifat itu. Gambaran lahir atau batin boleh disifatkan dengan sifat yang terpuji dan sebaliknya yang tercela.
Ø  Akhlak menurut para Ulama
Menurut Imam Al Ghazali, Al-Khulq ialah suasana kejiwaan yang mantap yang menerbitkan perbuatan, perbuatan itu terbit begitu sahaja tanpa berfikir dan merenung panjang. Sekiranya suasana kejiwaan yang menjadi sumber perbuatan itu memerlukan tindak-tanduk yang baik. Tetapi kalau muncul yang sebaliknya, maka suasana kejiwaan itu dinamakan sebagai akhlaq yang buruk.

Menurut Dr. Taufiq at Tawil :
"Ilmu akhlaq ialah ilmu yang menggariskan modul contoh utama yang wajar diikuti oleh manusia dalam tingkah-lakunya." Atau seperti yang dijelaskan oleh Dr. Zakaria Ibrahim bahawa ahli falsafah hampir sepakat mengatakan bahawa ilmu akhlaq ialah ilmu yang berusaha menemukan contoh-contoh tingkah laku manusia yang utama, mengasaskan konsep dan pengertian , menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam tingkah lakunya.
Menurut Prof. Dr. Omar Attoumi Asy-Syaibini:
"Ilmu akhlaq ialah ilmu yang mengkaji hakikat atau sifat tingkah laku yang berakhlaq, hakikat kebaikan (al-khair) dan keburukan (asy-syar), hak dan kewajipan, hati -nurani (conscience), hukum-hukum aahklaq, tanggung jawab akhlaq, motivasi dan tujuan tingkah laku. Ilmu ini juga meneliti asas-asas teori yang mendaji dasar keyakinan akhlaq , menentukan contoh-contoh utama, kaedah umum yang seharusnya menjadi pedoman tingkah laku manusia."
Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751).
 Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma disebutkan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.”


Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah akidah yang benar terhadap alam dan kehidupan, karena akhlak tersarikan dari akidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu, jika seseorang berakidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika akidah salah dan melenceng maka akhlaknya punakan tidak benar.
Akidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinannya terhadap Allah juga lurus dan benar. Karena barang siapa mengetahui Sang Penciptanya dengan benar, niscaya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah Allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh atau bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah ditetapkan-Nya.
Adapun yang dapat menyempurnakan akidah yang benar terhadap Allah adalah berakidah dengan benar terhadap malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para Rasul dan percaya kepada Rasul-rasul utusan-Nya yang mempunyai sifat jujur dan amanah dalam menyampaikan risalah Tuhan Mereka.
Keyakinan terhadap Allah, Malaikat, Kitab, dan para Rasul-rasul-Nya berserta syariat yang mereka bawa tidak akan dapat mencapai kesempurnaan kecuali jika disertai dengan keyakinan akan adanya hari Ahkir dan kejadian-kejadian yang menggiringnya seperti hari kebangkitan, pengmpulan, perhitungan amal dan pembalasan bagi yang taat serta yang durhaka dengan masuk surga atau masuk neraka.
Di samping itu, akidah yang benar kepada Allah harus diikuti pula dengan akidah atau kepercayaan yang benar terhadap kekuatan jahat dan setan. Merekalah yang mendorong manusia untuk durhaka kepada Tuhannya. Mereka menghiasi manusia dengan kebatilan dan syahwat.
Merekalah yang merusak hubungan baik yang telah terjalin di antara sesamanya. Demikianlah tugas–tugas setan sesuai dengan yang telah digariskan Allah dalam penciptaannya, agar dia dapat memberikan pahala kepada orang-orang yang tidak mengikuti setan dan menyiksa orang yang menaatinya. Dan semua ini berlaku setelah Allah memperingatkan umat manusia dan mengancam siapa saja yang mematuhinya setan tersebut.
Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar merupakan contoh perilaku yang harus diikuti oleh manusia. Mereka harus mempraktikannya dalam kehidupan mereka, karena hanya inilah yang akan mengantarkan mereka mendapatkan ridha Allah dan akan membawa mereka mendapatkan balasan kebaikan dariAllah.
Ketidakberesan dan adanya keresahan yang selalu menghiasi kehidupan manusia timbul sebagai akibat dari penyelewengan terhadap akhlak –akhlak yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Penyelewengan ini tidak akan mungkin terjadi jika tidak ada kesalahan dalam berakidah, baik kepada Allah. Malikat, rasul, kitab-kitab-Nya maupun hari Akhir.
Oleh karena itu, untuk menjaga kebenaran pendidikan akhlak dan agar seseorang selalu dijalan Allah yang lurus, yaitu jalan yang sesuai dengan apa yang telah digariskan-Nya, maka akidah harus dijadikan dasar pendidikan akhlak manusia.
Di sini jelas adanya hubungan rapat antara iman atau akidah dengan akhlak. Soalnya; apakah semua pegangan agama membawa kesan akhlak yang sama ? Tentu tidak.
Pegangan akidah (keagamaan) yang boleh menimbulkan kesan menyeluruh bukanlah sebarang akidah tapi ialah yang unggul dan mempunyai ciri-ciri yang mampu menimbulkan kepekaan keagamaan yang tinggi dan menerbitkan semangat perjuangan yang kukuh. Ciri yang mesti ada antara lain ialah :


1. Keimanan kepada Allah, pencipta alam jagat, manusia dan kurniaan Tuhan yang lain.
2. Keimanan kepada hari Akhirat.
3. Keimanan bahwa undang-undang akhlak ialah undang-undang Illahi, lahir dari kehendakNya untuk mengatur hidup manusia demi kesejahteraannya. (An-Nisaa' : 174-175).
Hubungan yang paling erat antara akhidah Islam dengan akhlak islami adalah hubungan kausalitas atau sebab akibat dan hubungan saling melengkapi. Artinya, akhidah islam yang kuat dapat melahirkan akhlak yang baik. Sebaliknya akhlak yang baik akan menambahkan keimanan, juga merupakan cermin dari akhidah yang kuat.





Bab III
Penutup
Kesimpulan
     Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa:
Akidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. Atau perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan
peranan penting akidah dalam membina manusia di berbagai sisi dan dimensi kehidupan yaitu :
1. Dalam Sisi Pemikiran.
2. Dalam Sisi Sosial.
3. Dalam Sisi Kejiwaan.
4. Dalam Sisi Akhlak.
Akhlak adalah penyifatan tentang gambaran batin seseorang. Gambaran jiwa, ciri-cirinya dan kandungannya yang tersendiri. Ini mencerminkan lahiriah , sifat seseorang dan segala kandungan sifat itu. Gambaran lahir atau batin boleh disifatkan dengan sifat yang terpuji dan sebaliknya yang tercela.
Hubungan yang paling erat antara akhidah Islam dengan akhlak islami adalah hubungan kausalitas atau sebab akibat dan hubungan saling melengkapi. Artinya, akhidah islam yang kuat dapat melahirkan akhlak yang baik. Sebaliknya akhlak yang baik akan menambahkan keimanan, juga merupakan cermin dari akhidah yang kuat.
Untuk menjaga kebenaran pendidikan akhlak dan agar seseorang selalu dijalan Allah yang lurus, yaitu jalan yang sesuai dengan apa yang telah digariskan-Nya, maka akidah harus dijadikan dasar pendidikan akhlak manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar